Sebuah note di facebook “CAHAYA DALAM KOTAK KACA” karya sahabatku, Adlinda Firdienta, mengingatkan aku tentang impian-impian di masa lampau.
Masa dimana semangat masih sangat segar dan kaki begitu riang melangkah tanpa beban dan rasa takut. Dimana segalanya tampak begitu sederhana, meraih cita-cita terasa begitu menyenangkan, seperti memanjat pohon untuk memetik buah ceri di halaman sekolah. Bukan sesulit menembus lapisan atmosfer untuk menyentuh bulan.
Sekarang, bermimpi saja rasanya sudah bukan lagi sebuah kebebasan. Ada imajinasi negatif tentang bahaya, rintangan, dan ancaman yang menghalanginya. Entah sejak kapan kabut tebal yang membuat aku berhenti bermimpi itu datang dan kenapa lama sekali tak pergi-pergi?
Kalau mau disebut-sebut, dulu aku pernah bercita-cita jadi petani. Itu juga kata teman kecilku karena aku bahkan tak percaya pernah mengatakan itu. Naif sekali! Waktu itu aku ingin menjadi petani karena semua orang bergantung kepadanya. Menurutku itu pekerjaan yang hebat! Semakin kedepan nanti pasti jumlah petani semakin sedikit. Semua orang ingin menjadi kaya tanpa buang-buang tenaga, semua orang ingin menjadi tuannya petani! Lalu siapa yang menjadi perantara Tuhan untuk menyuapi butir-butir kehidupan untuk kita para manusia yang rakus? Orang yang jadi satu-satunya petani nanti pasti hidup dan matinya akan penuh cinta dari Tuhan. *(impian Zahrah Dhiya’ul Haq tahun 1999)
Mimpi itu sebenarnya hanya ada 2. Mimpi ketika kita tertidur dan yang kita buat sendiri saat terjaga. Keduanya sama-sama memiliki kemungkinan untuk ‘tidak menjadi kenyataan’, terutama mimpi yang merupakan buah tidur, benar kan?
Tapi aku harus menampar keoptimisanku sendiri bahwa mimpi itu bukan hanya mimpi yang menghantuiku saat tertidur. Melainkan masih ada mimpi yang berhak menjadi kenyataan! (Bahkan buah tidur pun bisa menjadi nyata bukan?)
Dan kenyataannya, waktu kelas 3 SD aku sedang suka setengah mati dengan olahraga renang, bukan omong kosong karena aku ikut ekskul itu di sekolah. Kenyataan berikutnya, aku bersahabat dengan Anisa Azalia yang ibunya bekerja di La Rose, semacam Home and Interior Decor dengan furnitur-furnitur handmade bahkan handpainted, kemudian meracuni passionku dengan sihir estetika yang memanjakan mata. Kenyataan ketiga, aku yang sakit-sakitan entah sudah berapa kali berobat ke dokter anak (Alm. dr. Kemal), dan aku bangga sekali padanya karena disukai banyak anak-anak, dekorasi ruang prakteknya lucu, dan kalau mau buka jam praktek, dia seperti idola yang dipingit dalam ruangan khusus sementara orang-orang diluar menanti-nantikannya (termasuk aku) hahaha.
Alhasil, saat guruku, Pak Arif Rachman, menyuruh anak-anak didiknya menuliskan 3 cita-cita, tanpa pikir panjang, inilah yang aku tulis:
- ATLET RENANG
- DESAINER INTERIOR
- DOKTER ANAK
Mimpi itu memang boleh sebanyak-banyaknya. Keren malah! Mimpi-mimpi itu membuat hidup kita menjadi ‘sesuatu’, bukan sampah. Aku bukan orang yang bersikeras bahwa semua mimpi yang kita tuliskan bisa diwujudkan. Karena semua punya jatah rezekinya masing-masing, malah kita dianjurkan untuk berbagi rezeki. Tapi memang dasar kita manusia, ‘selalu ingin mendapatkan dan memiliki semuanya’. Saat menulis ketiga cita-cita tersebut, dalam hati aku mengatakan,
Aku tahu yang akan kejadian hanya salah satu. Apapun itu aku akan sepenuh hati menjalaninya. Sementara dua yang tersisih, aku tak akan pernah lupa bahwa aku pernah sangat menginginkannya, mereka menyumbangkan esensi terbaiknya dalam hidupku dan aku menghargainya. (pengorbanan kecil Zahrah Dhiya’ul Haq - 2002)
Aku tak akan pernah melupakan betapa menyenangkannya memikirkan mimpi tanpa harus merasa takut apa yang akan menghalangiku di depannya. Aku rindu sekali menulis mimpi-mimpi dengan semangat tanpa khawatir akan membuang-buang waktuku. Aku ingin sekali mengucapkan kalimat ini lagi -> “Ah aku mau jadi (ini-ini-ini) aah! Nanti aku mau bikin (itu-itu-itu) terus aku akan (begini-begitu).. pasti asyik!” dengan wajah ceria seolah semua itu akan otomatis tertulis dalam takdirku.
Sekelebat aku teringat saat aku tiba-tiba jatuh cinta dengan dunia Fashion. Seperti penyakit kecanduan yang kambuh-sembuh-kambuh-sembuh, aku membuat banyak rancangan pakaian sejak kelas 1 SMP (sampai sekarang pun aku masih melakukannya). Mungkin aku sudah membuat 100 lebih desain meskipun yang berhasil aku dokumentasikan tak sampai separuhnya. Aku pernah menulis dalam diaryku ingin membuat 100 rancangan pada usia 18 tahun dan mewujudkan satu rancangan fenomenal untuk Ibuku. Walaupun tidak terwujud tepat waktu, aku bersikeras untuk tetap menjadikannya kenyataan di lain waktu.
Aku pernah bermimpi ingin membangun sebuah Fashion Centre yang isinya tidak hanya baju-baju karyaku yang dipajang untuk dibeli, tetapi juga menyediakan Cloth Bank, tempat menyimpan dan menyalurkan pakaian-pakaian layak pakai dari siapa saja yang berbaik hati mau membantu saudara-saudaranya sesama manusia yang membutuhkan. Semacam Dompet Dhuafa namun fokus pada kebutuhan sandang. Selain itu, dalam Fashion Centre yang aku impikan juga membuka Free Course menjahit untuk wanita, nantinya mereka yang telah mendapat sertifikat akan diberdayakan dalam proses produksi brand-brand yang terlibat dalam Fashion Centre itu. Nantinya Fashion Centre ini bukan hanya ada di tanah air, tapi juga memiliki cabang di negara-negara lainnya. Nah, setelah Fashion Centre ini selesai dibangun di kepalaku, sekarang aku bingung darimana memulainya! -_- Paling-paling aku akan menabung dulu. Walaupun nanti biasanya tabungannya akan terpakai untuk kebutuhan lain, ya aku menabung lagi saja! *(uncontrollable passion Zahrah Dhiya’ul Haq - 2009)
Oke, cukup impian Fashion Centre-nya, aku sudah melempar shuttlecock terlalu tinggi, sampai-sampai tersangkut di atap rumah sendiri. Leluhurku tidak ada yang menyentuh dunia Fashion dan Mode ini. Orangtuaku juga kurang mendukung. Dan sebagai bisnis yang butuh modal cukup besar, rasanya passion yang kurang kontrol ini harus kusimpan dulu sementara dalam peti emas supaya tidak hancur. Aku harus lebih rasional sekarang!
Aku bukan terlahir dari keluarga yang terlalu miskin atau terlalu kaya. Kalau dari cerita-cerita motivasi yang kubaca, kebanyakan mereka awalnya miskin sekali, kemudian keadaan ekonomi atau kesehatan kedua orangtuanya membuat mereka terpaksa bekerja keras untuk menghidupi diri mereka sendiri. Mereka menjejalkan pikiran-pikiran positif untuk bertahan hidup dan itulah yang menjadikan mereka begitu tegap melangkah, merintangi kesulitan dan mempertahankan mimpi-mimpi mereka siang dan malam. Kemudian mereka berhasil atas kehendak Tuhan dan usahanya sendiri. Mereka menuliskan kisah-kisah hidup mereka, orang-orang membacanya dan mereka pun mendapatkan cap INSPIRING PERSON! Dan bertambahlah pahala mereka di sisi Tuhan. Aku sempat berpikir, kenapa orang-orang miskin seolah-olah mudah sekali menarik simpati Tuhan???
Kemudian cerita lainnya berasal dari keluarga sebaliknya, kaya. Mereka sejak kecil mengikuti les ini-itu, mengembangkan skill dan kini semua orang tahu mereka itu multitalented. Sejak lulus SMA sudah mandiri, diberi kepercayaan mengurus usaha pemberian orangtua mereka dalam usia yang sangat muda, katakanlah 16 atau 17 tahun. Setelah usahanya cukup sukses mereka kuliah dengan hasil usaha tersebut, kemudian kembali bergulat dengan bisnisnya itu dan kemudian go international pada usia 20 tahun, serentak semua orang yang mendengar publikasi dirinya berkata, LUAR BIASA! Aku ingin seperti dia! Tapi kemudian aku minder mengingat semua itu berawal dari pemberian orangtua yang memang sudah kaya -.-
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang yang biasa-biasa sajaaa??? Tidak miskin, tidak terlalu kaya juga. Bagiku keadaan seperti ini sangat menggantung -___-apakah kalian juga begitu? Kadang merasa miskin, kadang merasa mampu.
Di saat-saat begitu mimpi-mimpi yang kutuliskan mengetuk-ngetuk hatiku minta dibukakan pintu.
Aku ragu-ragu, kunci apa yang tepat untuk pintu itu. Tapi akhirnya Tuhan dengan baik hati meminjamkan aku kunci yang kusambut tanpa ragu, yang membukakan pintu dan membentangkan jalan rahasia untuk cita-citaku, untuk memetik buah ceri-ku…
Aku memutuskan untuk mengambil jalur beasiswa agar aku bisa menabung dan saat hari tesnya hampir saja aku menggagalkan diriku sendiri dengan hal sampah yang konyol dan pasti kusesali seumur hidup. Ketika pengumuman dan aku nyaris tak berani berharap lagi, ternyata aku lulus tes dan mendapatkan Full Scholarship untuk prodi impianku, Interior Design, di Telkom School of Fine Art and Design. (menjemput impian Zahrah Dhiya’ul Haq - 2011)
Lihatlah! Berapa lama impian itu mulai menampakkan wujudnya sejak aku mengucapkannya saat kelas 3 SD??? 8 tahun kawan! Bukankah itu cukup lama? Tentu saja, aku sudah berubah drastis selama 8 tahun ini, tapi ketika 1 hal tidak ikut berubah, yakni cita-citaku, selama 8 tahun aku tetap mencintainya, dan kini ia membalas perasaanku itu :”)
Aku bahkan tak lagi peduli di kampus mana sekarang aku belajar. Bagiku itu tak sampai separuhnya berpengaruh terhadap masa depanku. Tuhan bilang Dia memiliki segalanya. Tuhan bilang kalau ingin sesuatu mintalah kepada-Nya. Tuhan bilang kalau aku bingung dan hilang arah, bertanyalah kepada-Nya. Tuhan bilang kalau hatiku merasa kacau, senang atau sedihku, berbagilah dengan-Nya. Tuhan bilang kalau aku berbuat kesalahan, itu karena aku adalah manusia, segera meminta ampun maka Dia akan memaafkan aku. Dimana pun aku berada. Di kampus negeri atau swasta pun Tuhan akan bersikap adil kepadaku dan manusia lainnya.
Selama aku hidup dan mengenal apa itu mimpi, aku tidak pernah berpikir bahwa mimpi itu tidak baik untuk hidupku. Mimpi mungkin memang menyita waktumu beberapa jam untuk menuliskan plan A dan plan B-nya, tapi kau tak pernah tahu kan kalau hidupmu di jam-jam berikutnya akan lebih berwarna dan akan selalu ada hal-hal baru yang kau dapatkan. Di saat impianmu terwujud kau akan mengenang proses-proses penuh makna yang telah kau lalui itu. Kau akan merindukan hari-harimu yang tak pernah kosong dan pasti ingin melakukannya lagi.
Semua orang pernah mengatakan hal ini,
Jangan pernah takut untuk bermimpi!
Jangan pernah berhenti bermimpi!
Atau kata-kata mujarab yang satu ini,
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. (Arai, dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata)
Kata-kata di atas itu rasanya sudah kuno sekali, sejak dulu kisah-kisah motivasi menjadikannya sebagai intisari dari pengalaman-pengalaman mereka. Hampir bosan mendengarnya. Tapi kini ketika kau mengalaminya, rasanya ingin terus mengucapkannya dalam hati, mirip mantra dalam cerita sihir.
Kau harus ingat, Dreaming is Not Only When You Were Sleeping. Percayalah mimpi itu tak selalu mimpi yang kau alami saat tidur dan ketika terbangun lenyap tak berjejak. Kau juga punya mimpi yang berhak menjadi kenyataan! Bangun dan mulailah bermimpi dengan sadar. Mimpi itu seperti kata-kata yang kau ucapkan, ibarat sebuah do’a!
Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan sekarang. Tuhan akan menjaga mimpi-mimpimu sampai waktu yang tepat untuk memberi kejutan kepadamu. Sungguh! ;)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
February 13th, 2012
Zahrah Dhiya’ul Haq | 18 y.o | Undergraduate Student of Interior Design STISI Telkom